Sejarah Desa Dermolo

SEJARAH ASAL USUL BERDIRINYA DESA DERMOLO

           

Pada zaman Belanda mulai berkuasa di Jepara, Desa Dermolo belum lahir. Desa Dermolo diwilayah Jepara adalah wilayah yang terbaru pada zaman itu.

Pimpinan Jepara pada waktu itu adalah secara berturut-turut antara lain : Kanjeng Bupati Adipati Citra Sumo III, IV, V dan VI. Kemudian dipimpin Tumenggung Cendol dan tidak lama kemudian dipimpin lagi oleh Citro Sumo ke VII.

Pada tahun 1857 jabatan Bupati Jepara dari Trah Citro Sumo VII telah habis diganti iparnya bernama Raden Tumenggung Citro Kromo yang kemudian secara berturut- turut diganti oleh : Kanjeng Raden Mas Aryo Adipati  Sosroningrat, Raden Mas Aryo Adipati  Koesoemo Oetoyo.

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1858 terjadi keresahan – keresahan di masyarakat karena adanya perampokan, pembunuhan, penindasan, penganiayaan yang dilakukan oleh para kelompok berandal yang sangat kejam dan tidak berkeperikemanusiaan, sehingga sangat mengganggu ketentraman dan ketertiban pada waktu itu.

Kejadian yang sangat sadis dan tidak manusiawi ini adalah diwilayah Jepara utara khususnya diwilayah Kawedanan atau Distrik Bangsri. Dan disinyalir bahwa para kelompok berandal tersebut bersembunyi dan berdomisili di sekitar wilayah utara Kawedanan atau Distrik Bangsri.

Kabar tersebut telah terdengar sampai pada Gubernur, maka Gubernur telah memerintahkan kepada Kanjeng Bupati Jepara  (Raden Mas Aryo Adipati Koesoemo Oetoyo).

Guna segera memusnahkan kelompok berandal diwilayah Jepara tersebut. Kanjeng Bupati segera menindak lanjuti perintah tersebut dengan segenap lembaga Pemerintah yang ada pada zaman itu namun tidak berhasil bahkan bertambah parah dan semakin merajalela. Kemudian pada tahun 1866 Kanjeng Bupati Raden Mas Aryo Adipati Koesumo Oetoyo telah memerintahkan Lurah Jinggotan agar mencari seseorang atau kelompok tokoh yang mampu menumpas para berandal tersebut.

Maka pada suatu ketika Lurah Jinggotan beserta orang dekatnya telah melaksanakan Perintah Kanjeng Bupati Jepara tersebut ke berbagai tempat baik ke wilayah Desa lain maupun ke para berandal untuk diajak menumpas para berandal yang sangat mengganggu kehidupan bermasyarakat pada waktu itu.

Beberapa tahun kemudian Lurah Jinggotan telah mendengar bahwa telah ada beberapa tokoh dan pimpinan berandal yang bersembunyi dan di sekitar kawasan hutan wilayah Jinggotan dan Desa Kendran. Perlu diketahui bahwa pada saat itu Desa Dermolo belum berdiri. Kalau dari arah Jepara adalah Desa Bangsri, Wedelan, Jinggotan dan Kendran.

Berbagai informasi telah dikumpulkan akhirnya Lurah Jinggotan datang ke Padepokan Ampel atau mbah Ngampel (yang saat ini dikenal dengan Dukuh Dombang) menuju Padepokan mbah Tambar(Punden Tambar)
dilokasi tersebut Lurah Jinggotan berhasil menemui  mbah Giyah yang sedang membersihkan halaman rumah dan kemudian disusul mbah Tambar yang sekarang di belik/ sumur Giyah di RT 02 RW 03 Dukuh Punden Desa dermolo.

Terjadilah pertemuan Lurah Jinggotan dengan dua tokoh sakti yaitu mbah Giyah dan mbah Tambar. Pada dasarnya Lurah Jinggotan atas perintah Kanjeng Bupati Jepara agar mbah Giyah dan mbah Tambar untuk bisa membantu memusnahkan para berandal di wilayah Kawedanan atau Distrik Bangsri ini yang sangat meresahkan warga masyarakat pada zaman itu.lalu antara Lurah Jinggotan dan tokoh mbah Tambar dan mbah Giyah melakukan kesepakatan yang sangat penting.

Apabila kedua tokoh tersebut berhasil memusnahkan para berandal, maka akan diberi hadiah sebagian tanah sebelah utara sungai Jinggotan.

“ WAK NEK SAMPEYAN SAK BIANTU KARO AKU, BESUK NEK REJANE ZAMAN TAK PARINGI HADIAH WILAYAH/ TANAH SEBAGIAN LOR KALI JINGGOTAN “

Ini adalah ucapan Lurah Jinggotan pada zaman itu.

Permintaan Lurah Jinggotan atas perintah Kanjeng Bupati Jepara telah disanggupi oleh kedua tokoh tersebut.

Mbah Tambar dan mbah Giyah dibantu oleh beberapa tokoh lain yaitu mbah Sumo Lodo (mbah Lodo), mbah Joyo Kusumo (mbah Nongko) serta mbah Ngampel dan Mbah Adi Alim segera melaksanakan perintah Lurah Jinggotan atas nama Kanjeng Bupati Jepara.

Perlu diketahui bahwa sosok mbah Tambar adalah seorang yang pendiam, berilmu tinggi, bijaksana dan berwibawa dan tidak mau mengganggu atau merugikan orang lain.

Setelah ada kesepakatan dengan para tokoh, maka mbah Tambar, mbah Giyah dan mbah Ngampel serta tokoh-tokoh lainnya segera mengadakan koordinasi keseluruh tokoh diwilayah Kawedanan Bangsri guna menumpas berandal-berandal yang selalu membuat resah.

Sosok mbah Sumo Lodo (mbah Lodo) dan Joyo Kusumo (mbah Nongko) adalah kepala Berandal pada waktu itu, maka dengan mudah Keresahan, kerusuhan yang mengganggu keamanan, ketertiban masyarakat tersebut telah dapat diatasi oleh Mbah Tambar, Mbah Giyah, Mbah Lodo, Mbah Joyo Kusumo.

Sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tahun 1870 mbah Tambar dan kawan-kawan telah berhasil menghalau para berandal, dengan demikian wilayah Kawedanan Bangsri menjadi aman.

Maka Lurah Jinggotan segera memenuhi janjinya dengan terlebih dahulu mengadakan pertemuan di Padepokan Ampel (mbah Ngampel) bersama dengan mbah Tambar, mbah Giyah, mbah mbah Ngampel dan kawan-kawan guna menyampaikan ucapan terima kasih atas keberhasilannya menumpas para berandal pada hari Jum’at Pon Tahun  1881. Dan Lurah Jinggotan segera melapor kepada Kanjeng Bupati atas keberhasilan para tokoh seperti mbah Tambar, mbah Giyah, mbah lodo dan mbah Joyo Kusumo.

Pada minggu berikutnya yaitu pada hari Jum’at Kliwon, Kanjeng Bupati Jepara telah mengadakan peninjauan sekaligus penyerahan hadiah wilayah Tanah kepada mbah Tambar dan kawan – kawannya karena keberhasilannya merampas para berandal.

Maka pada hari Jum’at Kliwon bulan Besar Tahun 1881 bertempat di Padepokan mbah Tambar, dibawah 2 pohon besar (pohon Demolo hasil tanaman mbah Tambar) Kanjeng Bupati Jepara telah menyerahkan wilayah tanah utara sungai Jinggotan (Lor kali Jinggotan). Bahwa pada saat itu wilayah Jinggotan dibagi dua yang sebagian lor kali Jinggotan diberikan penuh oleh Kanjeng Bupati Jepara kepada mbah Tambar dan kawan-kawan dan sebelah selatan sungai tetap menjadi milik Desa Jinggotan.

Pada hari Jum’at Kliwon tersebut, pada saat kunjunganan pemberian hadiah oleh Kanjeng Bupati telah dimeriahkan Seni Beksan Tayub serta hidangan jamuan yang sungguh nikmat, dengan lauk wader hasil dari sumur mbah Giyah sendiri, ayam panggang dan minuman badek sebagai minuman khas pada zaman itu serta suguhan kinang dan sampai sekarang suguhan tersebut masih dilestarikan sebagai suguhan pada waktu saat perayaan sedekah bumi yang dilaksanakan setiap pada hari Jum’at Kliwon bulan Besar  guna memperingati dan mengenang penyerahan hadiah dari Bapak Bupati kapada mbah Tambar.

Setelah penyerahan hadiah karena belum adanya pemikiran atau pembentukan wilayah atau pembentukan Desa, selama 20 Tahun belum ada pemimpin atau Kepala Desa.

Baru setelah mendapat berita dari Kadipaten pada tahun 1980 bahwa wilayah tanah hadiah yang diberikan oleh Kanjeng Bupati kepada mbah Tambar dkk akan dibentuk Desa dengan menunjuk satu pimpinan desa. Maka mbah Tambar dkk telah sepakat berembug untuk memberi nama desa.      

Asal usul nama desa pada waktu itu pemberian hadiah tanah dari Kanjeng Bupati mbah Tambar dkk dibawah 2 pohon besar yaitu pohon Demolo maka mbah Tambar dan dkk sepakat memberi nama Desa DEMOLO.

Seiring waktu dan banyaknya perubahan-perubahan Kepemimpinan desa nama Desa berubah menjadi Desa DERMOLO.

Terakhir silsilah berdirinya Desa Dermolo bisa diyakinkan secara sah yaitu pada tahun 1991 dengan adanya “ PENUNJUKAN dan PEMILIHAN KEPALA DESA”

 Berikut pemimpin-pemimpin atau Kepala Desa Dermolo :

  1. PETINGGI Ke – I            : SARIMIN                            (DOMBANG)
  2. PETINGGI Ke – II          : KLIWON                             (DOMBANG)
  3. PETINGGI ke – III         : PAWIRO                             (DOMBANG)
  4. PETINGGI ke – IV         : SABAR                                  (GUNDI)
  5. PETINGGI ke – V           : TAMAN                                 (NGEMPLIK TH. 1931-1936)
  6. PETINGGI ke – VI         : KARTO REJO GUTUL     (WATES TH. 1936-1945)
  7. PETINGGI ke – VII        : MOCH. IKSAN                   (NGEMPLIK TH. 1945-1987)
  8. PETINGGI ke – VIII      : SARDJONO                         (NGEMPLIK TH. 1988-2007)
  9. PETINGGI ke – IX         : NOORKHAN                      (NGEMPLIK TH. 2007-2013)
  10. PETINGGI ke – X           : HADI PATENAK               (NGEMPLIK TH 2013)

Demikian asal usul berdirinya Desa Dermolo maka kita semua warga masyarakat harus bisa mengenang dan menghormati para pendahulu-pendahulu yang telah menjaga dan mendirikan Desa Dermolo. Amin…..

Terimakasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Nara Sumber :

  1. Mbah Saimin ( Alm )
  2. Mbah Sumito Cempli ( Alm )
  3. Mbah Wagirin
  4. Mbah Kisud
  5. Mbah Saman
  6. Mbah Kaseno
  7. Mbah Sardjono
  8. Mbah Binyamin